Biodiversitas lokal menyimpan potensi besar bagi pengembangan riset etnofarmakologi. Berbagai tumbuhan obat, mikroorganisme, fungi, hingga sumber daya hayati lain telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat dalam praktik pengobatan tradisional. Pengetahuan tersebut bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi titik awal dalam pencarian senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat. Namun, agar pemanfaatannya tidak hanya berhenti pada pengalaman empiris, diperlukan pendekatan ilmiah yang mampu menjelaskan kandungan, mekanisme kerja, serta potensi pengembangannya secara lebih terukur. Dalam konteks inilah genome editing menjadi salah satu teknologi yang relevan untuk dibahas.
Genome editing merupakan teknologi yang memungkinkan perubahan materi genetik dilakukan secara lebih terarah pada bagian tertentu dari genom. Salah satu teknologi yang banyak dikenal adalah CRISPR/Cas9, yang sering digambarkan sebagai gunting molekuler karena mampu memotong DNA pada lokasi spesifik. Berbeda dengan mutasi konvensional yang cenderung acak, genome editing bekerja lebih presisi karena diarahkan pada gen tertentu yang berkaitan dengan sifat yang ingin dipelajari atau dikembangkan. Dalam kajian mengenai tanaman hasil genome editing, teknologi ini dijelaskan sebagai teknik pemuliaan presisi yang dapat memperbaiki sifat tanaman melalui pengeditan gen target secara spesifik. Pada beberapa pendekatan, produk akhirnya bahkan dapat dirancang agar tidak mengandung DNA asing, meskipun hal ini tetap bergantung pada tipe dan proses editing yang digunakan.
Dalam riset etnofarmakologi, genome editing memiliki peluang besar untuk memperkuat pembuktian ilmiah terhadap bahan alam lokal. Banyak tanaman obat menghasilkan senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, fenolik, saponin, dan minyak atsiri. Senyawa-senyawa tersebut sering menjadi dasar aktivitas farmakologis suatu bahan alam, misalnya sebagai antimikroba, antiinflamasi, antidiabetes, atau antikanker. Akan tetapi, kandungannya dapat berbeda-beda karena dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, umur tanaman, musim, serta cara budidaya. Melalui genome editing, gen-gen yang terlibat dalam pembentukan senyawa aktif tersebut dapat dipelajari lebih lanjut, sehingga riset tidak hanya mengetahui bahwa suatu tanaman berkhasiat, tetapi juga memahami dasar biologis dari khasiat tersebut.
Selain itu, genome editing dapat membantu menjelaskan mekanisme kerja senyawa alam secara molekuler. Dalam penelitian obat berbasis bahan alam, pembuktian efek farmakologis saja belum cukup. Peneliti juga perlu memahami bagaimana suatu senyawa bekerja di dalam tubuh atau di tingkat sel. Dengan bantuan model sel atau organisme yang gennya telah dimodifikasi, senyawa dari biodiversitas lokal dapat diuji pengaruhnya terhadap jalur inflamasi, metabolisme glukosa, stres oksidatif, pertumbuhan sel kanker, atau respons imun. Pendekatan ini membuat riset etnofarmakologi menjadi lebih kuat karena pengetahuan tradisional dapat dikaitkan dengan bukti molekuler yang lebih jelas.
Teknologi ini juga membuka peluang bagi pengembangan produksi senyawa obat yang lebih berkelanjutan. Beberapa senyawa bioaktif pada tanaman obat diproduksi dalam jumlah kecil, sehingga pemanenan langsung dari alam berisiko menekan populasi spesies tertentu. Melalui pendekatan genome editing, produksi senyawa tersebut berpotensi dikembangkan melalui kultur sel, kultur jaringan, akar rambut, atau mikroorganisme sebagai sistem produksi yang lebih terkontrol. Dengan demikian, pemanfaatan biodiversitas tidak harus selalu bergantung pada eksploitasi langsung dari alam, tetapi dapat diarahkan pada sistem yang lebih efisien dan mendukung konservasi.
Meski demikian, penerapan genome editing dalam riset etnofarmakologi tetap perlu dilakukan secara hati-hati. Teknologi ini menuntut pengawasan etik, keamanan hayati, serta regulasi yang jelas. Risiko perubahan genetik di luar target, dampak terhadap lingkungan, dan kemungkinan penyalahgunaan sumber daya genetik harus menjadi perhatian. Selain itu, pengetahuan tradisional yang menjadi dasar pemilihan spesies tidak boleh diabaikan. Masyarakat lokal sebagai pemilik pengetahuan perlu memperoleh pengakuan dan pembagian manfaat yang adil agar riset tidak berubah menjadi bentuk eksploitasi atau biopiracy.
Dengan demikian, genome editing dapat dipahami sebagai jembatan antara pengetahuan tradisional dan bioteknologi modern. Teknologi ini berpotensi memperkuat validasi ilmiah, mendukung peningkatan produksi senyawa bioaktif, menjelaskan mekanisme kerja obat alami, serta mendorong pemanfaatan biodiversitas lokal secara lebih berkelanjutan. Oleh karena itu, seminar dengan judul “Genome Editing dalam Pengembangan Riset Etnofarmakologi Berbasis Biodiversitas Lokal” menjadi penting sebagai ruang untuk mempertemukan gagasan tentang kemajuan bioteknologi, kekayaan hayati, dan kearifan lokal. Seminar ini diharapkan dapat mendorong pemikiran kritis, kolaborasi lintas bidang, serta kesadaran etik dalam mengembangkan riset etnofarmakologi yang tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga pada konservasi dan keberlanjutan biodiversitas lokal.
Online Via Zoom
Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Oktober 2026
Waktu: 08.00-12.00 WIB